Artikel

Opini & Refleksi Pendidikan

Ketika Sekolah Dipaksa Menjadi Satu-satunya Penjaga Karakter

Antara Harapan dan Kenyataan Setiap tahun ajaran baru, sekolah kembali dipenuhi harapan. Orang tua datang mengantar anaknya dengan wajah optimis. Ada yang berbisik kepada guru, “Kami titip anak kami, Pak/Bu.” Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mengandung kepercayaan. Namun dalam praktiknya, “menitipkan” sering kali berubah makna menjadi “menyerahkan sepenuhnya.” Sekolah kemudian menjadi tumpuan utama—bahkan satu-satunya—harapan pembentukan akademik dan karakter anak. Ketika nilai rapor menurun, sekolah dipertanyakan. Ketika anak menunjukkan perilaku menyimpang, guru dipersoalkan. Seolah-olah sekolah adalah bengkel yang mampu memperbaiki seluruh kerusakan karakter dalam waktu enam jam sehari. Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks. Fenomena perundungan, rendahnya etika komunikasi, menurunnya motivasi belajar, hingga kecanduan gawai menjadi potret yang kian sering kita jumpai di sekolah-sekolah. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa laporan kasus perundungan di lingkungan pendidikan masih menjadi salah satu pengaduan tertinggi setiap tahun. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan peningkatan signifikan penggunaan internet pada kelompok usia sekolah, yang tanpa pendampingan berpotensi memengaruhi perilaku dan karakter anak. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa problem pendidikan hari ini bukan semata persoalan kurikulum atau metode pembelajaran, melainkan persoalan ekosistem. Pendidikan dalam Perspektif Regulasi Nasional Secara normatif, negara telah menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya urusan sekolah. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Bahkan dalam Pasal 7 ditegaskan bahwa orang tua berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. Artinya, secara hukum pun sekolah tidak pernah dirancang untuk bekerja sendirian. Lebih jauh, kebijakan Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan menempatkan keluarga sebagai mitra utama sekolah dalam membangun karakter peserta didik. Sekolah berfungsi memperkuat, bukan menggantikan, peran keluarga. Ki Hadjar Dewantara sejak awal telah mengingatkan, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Filosofi ini menegaskan bahwa pendidikan karakter berakar dari rumah, bukan dari ruang kelas. Mengapa Keterlibatan Keluarga Penting? Laporan OECD melalui studi Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan—seperti membiasakan membaca, berdiskusi, dan memantau aktivitas belajar—berkorelasi positif terhadap capaian akademik dan sikap belajar siswa. Penelitian-penelitian tentang school-family partnership juga menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan meningkat ketika terdapat kesinambungan nilai antara rumah dan sekolah. Sebaliknya, ketika sekolah menanamkan disiplin tetapi rumah permisif, atau sekolah mengajarkan etika digital tetapi rumah tanpa kontrol, maka anak menerima pesan yang kontradiktif. Karakter terbentuk dari pengulangan dan konsistensi. Tanpa konsistensi lingkungan, nilai yang ditanamkan di sekolah mudah terkikis. Peran Tri Pusat Pendidikan Dalam praktik sehari-hari, guru hanya berinteraksi dengan siswa beberapa jam dalam sehari. Selebihnya, siswa hidup dan tumbuh di rumah serta lingkungan masyarakat. Di sinilah relevansi gagasan Ki Hajar Dewantara tentang Tri Pusat Pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiganya bukan pilihan, melainkan satu kesatuan. 1. Keluarga: Fondasi Utama Karakter Keluarga adalah sekolah pertama dan utama. Di sanalah anak pertama kali belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, empati, dan disiplin. Pola asuh, komunikasi, dan keteladanan orang tua membentuk struktur moral anak sejak dini. Karakter tidak lahir dari ceramah, melainkan dari contoh. Jika orang tua menanamkan budaya membaca, anak terbiasa membaca. Jika orang tua menjaga etika komunikasi, anak belajar menghormati. Pendidikan karakter pada dasarnya adalah pendidikan keteladanan. Ketika fungsi ini melemah—karena kesibukan, kurangnya kesadaran, atau pola asuh yang inkonsisten—sekolah menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. 2. Sekolah: Penguat dan Pengembang Sekolah memiliki keunggulan dalam aspek sistematis dan terukur, terutama pada ranah akademik. Kurikulum, evaluasi, dan standar kompetensi memungkinkan capaian belajar diukur secara objektif. Namun pembentukan karakter di sekolah memiliki keterbatasan waktu dan konteks. Guru bertemu siswa rata-rata 6–8 jam per hari dengan jumlah peserta didik yang banyak. Sementara pembentukan karakter berlangsung sepanjang hari, sepanjang hayat. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi pembimbing. Namun tanpa dukungan keluarga dan masyarakat, peran ini menjadi tidak proporsional. 3. Masyarakat: Ruang Sosial Pembentuk Nilai Lingkungan sosial adalah ruang aktualisasi nilai. Di masyarakatlah anak belajar berinteraksi, menghormati aturan sosial, dan memahami konsekuensi perilaku. Namun realitas masyarakat modern menunjukkan pergeseran. Interaksi komunal berkurang, ruang bermain sosial menyempit, dan kontrol sosial melemah. Media sosial dan dunia digital sering kali lebih dominan dibandingkan interaksi nyata. Tanpa budaya masyarakat yang sehat, nilai-nilai yang diajarkan keluarga dan sekolah tidak memiliki ruang penguatan. Kesulitan Guru Tanpa Dukungan Ekosistem Sering kali ketika terjadi pelanggaran perilaku siswa, sekolah menjadi pihak pertama yang dipertanyakan. Padahal pendidikan karakter berlangsung 24 jam, sementara sekolah hanya memiliki sebagian kecil dari waktu tersebut. Guru sering berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, mereka dituntut menghasilkan siswa berprestasi akademik. Di sisi lain, mereka diminta membentuk karakter unggul. Namun Ketika orang tua kurang terlibat dalam pengawasan belajar di rumah, lingkungan masyarakat permisif terhadap perilaku menyimpang, anak lebih banyak belajar dari media sosial daripada dari dialog keluarga, maka sekolah bekerja dalam kondisi yang timpang. Sekolah bukan bengkel karakter yang dapat memperbaiki seluruh persoalan dalam waktu singkat. Pendidikan karakter adalah proses panjang yang memerlukan konsistensi lintas lingkungan. Jika pendidikan karakter hanya dibebankan kepada sekolah, maka kita sedang meminta guru menyelesaikan persoalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Refleksi Kritis Jika hari ini kita melihat meningkatnya persoalan disiplin, perundungan, rendahnya motivasi belajar, atau krisis sopan santun, maka pertanyaannya bukan sekadar “apa yang salah di sekolah?”, tetapi juga: Apakah rumah masih menjadi ruang dialog yang hangat? Apakah masyarakat masih menjadi ruang keteladanan? Ataukah sekolah telah menjadi “kambing hitam” atas problem sosial yang lebih luas? Pendidikan karakter tidak pernah selesai dalam ruang kelas. Ia tumbuh dari konsistensi nilai antara rumah, sekolah, dan masyarakat. Tanpa dukungan keluarga dan lingkungan sosial yang sehat, guru hanya bekerja pada permukaan—sementara akar pembentukan karakter berada di tempat lain. Membangun Kolaborasi Nyata Solusi atas persoalan ini bukanlah mencari pihak yang paling bertanggung jawab, melainkan membangun kolaborasi. Penguatan Kemitraan Sekolah–Orang Tua: Melalui program parenting education, forum komunikasi rutin, dan keterlibatan aktif orang tua dalam kegiatan sekolah. Literasi Digital Keluarga: Orang tua perlu dibekali pemahaman tentang pengawasan dan pendampingan penggunaan teknologi. Revitalisasi Peran Masyarakat: Menghidupkan kembali budaya gotong royong, kegiatan kepemudaan, dan kontrol sosial yang positif. Kebijakan Sekolah Berbasis Kolaborasi: Sekolah perlu membangun sistem yang melibatkan keluarga dalam pemantauan perkembangan karakter siswa, bukan hanya akademik. Mendidik Bersama, Bukan Saling Menyalahkan Membentuk generasi yang cerdas itu penting. Namun membentuk generasi yang cerdas sekaligus

Praktik Baik Pembelajaran

Zero Illiteracy : Gerakan Berantas Buta Baca, Wujudkan Merdeka Belajar

Kabupaten Musi Rawas Utara sampai saat ini masih kategori daerah 3T, daerah yang terletak di ujung Provinsi Sumatera Selatan. Persoalan fundamental Pendidikan yang terjadi wilayah Kabupaten Musi Rawas Utara adalah rendahnya literasi siswa. Literasi tidak dipahami hanya sebatas membaca, menulis, jauh dari itu adalah kemampuan peserta didik dalam mengolah segala informasi yang akan menjadi sebuah kecakapan yang dimilikinya. Penulis fokus pada sekolah internal, survei berdasarkan hasil nilai literasi ANBK 2022 SDN Embacang Lama masih predikat merah, yakni pada posisi 40 %. Rendahnya hasil literasi ANBK salah satunya adalah kesadaran minat baca siswa rendah serta lemah dalam sintesis isi bacaan. Data lain berdasarkan assesment kemampuan baca, terdapat 30 orang siswa pada kelas tinggi yang kemampuan baca belum mencapai pada tingkat pemahaman atau grade B. Penulis tergerak untuk mencari solusi pemecahan masalah literasi di sekolah, merubah mindset bersama bahwa persoalan literasi harus dipecahkan secara team work, bukan lagi menjadi pekerjaan rumah yang dibebankan kepada masing-masing wali kelas. Ide awal yang penulis Kembangkan adalah berbasis masalah, yakni menjadikan problem sebagai sebuah tantangan yang harus diselesaikan. Kemudian mengkaji literatur, tahapan selanjutnya adalah merencanakan program, observasi, action dan evaluasi. Program yang digunakan dalam menurunkan angka buta baca adalah zero illiteracy. Zero illiteracy adalah kata serapan bahasa inggris yang kemudian diartikan sebagai nol buta baca, dalam konteks bahasan studi ilmiah ini diartikan sebagai gerakan berantas buta baca. Secara spesifik asal istilah zero illiteracy ini dibuat oleh penulis sebagai sebutan nama program. Zero illiteracy diartikan sebagai tingkatan kecakapan atau kemampuan membaca yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Tahapan grading dalam program zero illiteracy ini terdapat empat tahapan atau grading yakni ; Grade A, Grade B, Grade C dan Grade D. Grading ini merujuk pada Badan Standar Kurikulum N0. 030/P/2022 Tentang Penjenjangan Buku. Hasil data menunjukan pada tahap perencanaan jumlah peserta didik yang berada pada grade A sebanyak 8 orang, dan mengalami kenaikan 2 orang. Grade B pada tahapan perencanaan sejumlah 30 orang kemudian naik menjadi 41 orang. Pada grade C yang semula 12 naik menjadi 15 orang. Sementara grade D pada tahap perencanaan awal sebanyak 35 orang turun menjadi 27 orang. Program zero illiteracy ini penulis kembangan sejak pelaksanaan kick off pada bulan agustus tahun 2022, sebelum penulis diangkat sebagai kepala sekolah. Kami mengajak kepada seluruh dewan guru, staf, kepala sekolah dan disaksikan oleh Kepala Dinas Pendidikan untuk menandatangai komitmen bersama (https://bit.ly/3YUqiaj). Kurang lebih selama dua tahun program zero illiteracy diterapkan di sekolah SDN Embacang Lama. Dampak perubahan yang dirasakan sangat masif, terutama pada psikologis siswa, dimana sebelum ada program zero illiteracy siswa yang tidak bisa membaca merasa termarginalkan karena memperoleh perlakuan lain dengan siswa yang sudah bisa membaca dengan baik. Sebagai contoh perlakukan yang membuat siswa tertekan adalah “perampasan’’ jam istirahat yang dimanfaatkan oleh guru (wali kelas) untuk membimbing siswa dalam belajar membaca. Penulis sangat tidak setuju dengan kebijakan yang menggunakan jam istirahat siswa untuk membimbing beberapa siswa yang tidak bisa membaca, karena otak memiliki batas kemampuan untuk berfikir konsentrasi dan membutuhkan jeda untuk refresh. Perubahan pasca diterapkan zero illiteracy, sangat terlihat kongkret, yakni dari semangat siswa dalam belajar membaca karena semua mendapat perlakukan sama, siswa merasa sangat terakomodir karena dikelompkan berdasarkan jenjang grade masing-masing dan dibimbing lebih dari dua orang guru. Kegiatan zero illiteracy ini dilaksanakan lima belas menit sebelum jam efektif belajar , semua elemen terlibat aktif, dan sangat terasa budaya literasi. Beberapa kelebihan program zero illiteracy adalah modul bacaan dan buku pembaca pemula disusun oleh penulis (https://bit.ly/3YSHlcZ), adanya unsur homogen dan heterogen. Homogen dalam aspek kemampuan membaca dan heterogen dalam aspek tingkatan kelas. Siswa akan dikelompokan berdasarkan kemapuan jenjang baca yang artinya siswa pada jenjang kelas tinggi akan memungkinkan bertemu dengan siswa jenjang kelas rendah (sesuai kemampuan membaca). Program zero illiteracy sangat terasa kental semangat kolaborasi dan kebersamaan karena pada pelaksanaan program ini semua guru dan staf terlibat sebagai mentor baca, menjadikan sebuah persoalan besar “buta baca” yang akan menjadi target utama untuk diselesaikan bersama oleh seluruh steakholder. Progaram ini penulis sosialisasikan kepada masyarakat utamanya wali murid, lebih dari itu penulis memiliki harapan program ini dapat diterapkan di sekolah-sekolah Kabupaten Musi Rawas Utara. Meskipun baru tiga dari tujuh kecamatan yang sudah meniru program zero illiteracy, masyarakat merespon sangat bagus, karena memiliki keunggulan, target, alat ukur, dan perlakukan dengan strategi khusus terhadap persoalan buta membaca untuk siswa. Tanggapan positif dari para praktisi pendidikan pertama kali kami peroleh saat gelar panen karya guru penggerak Angkatan 8 Kabupaten Musi Rawas Utara saat penulis melakukan pemaparan program zero illiteracy. Program zero illiteracy yang sudah diterapkan mampu menjawab stigma masyarakat. Selama ini lulusan SDN Embacang Lama yang paling dianggap memiliki kelulusan yang kurang kompeten dalam literasi (baca, tulis). Narasi-narasi sperti ini penulis dengar secara langsung dari masyarakat atau dewan guru di SMP Karang Jaya (sekolah yang banyak diminati lulusan SDN Embacang Lama). Stigma tersebut mulai berkurang semenjak diterapkan program zero illiteracy, terlebih penulis gencar mensosialisasikan bentuk kegiatan zero illiteracy lewat media, baik pada akun pribadi atau akun resmi sekolah. Penulis juga sering di undang dalam kesempatan diseminasi program zero illiteracy baik di wilayah Kabupaten musi rawas utara maupun dari sekolah luar Kabupaten musi rawas utara. Strategi alur zero illiteracy penulis bagikan kepada guru dan kepala sekolah yang membutuhkan. Penulis memiliki Impian program zero illiteracy ini dapat digeneralisasi di sekolah-sekolah wilayah Kabupaten Musi Rawas Utara, khususnya sekolah yang memiliki persolaan yang sama. Program zero illiteracy ini sudah melalui beberapa tahap uji coba baik di internal sekolah maupun sekolah lain yang menerapkan dan menunjukan hasil yang cukup signifikan dalam meningkatkan kesadaran literasi siswa. Penulis sudah melibatkan para pengawas sekolah untuk membantu mensosialisasikan program zero illiteracy ini kepada sekolah-sekolah binaannya. Sampai tahap saat ini sudah tiga kecamatan dan total 25 sekolah di Kabupaten Musi Rawas Utara menerima materi workshop zero illiteracy. Kedepan penulis memiliki keingingan untuk menguji program zero illiteracy kepada pakar Pendidikan meminta masukan dan menyempurkan kekurangan sehinga nantinya dapat secara serentak diterapkan di sekolah-sekolah, dengan diterbitkan surat edaran Dinas Pendidikan Muri Rawas Utara. Penulis akan menyempurnakan modul zero illiteracy, sehingga terbentuk silabus / kurikulum baku zero illiteracy, dengan demikian guru atau sekolah yang akan menerapkan zero illiteracy, akan

Praktik Baik Pembelajaran

Zero Illiteracy : Gerakan Berantas Buta Baca, Wujudkan Merdeka Belajar

Zero Illiteracy : Gerakan Berantas Buta Baca, Wujudkan Merdeka Belajar Oleh: Koko Triantoro kokotriantoro@gmail.com survei berdasarkan hasil nilai literasi ANBK 2022 SDN Embacang Lama masih predikat merah, yakni pada posisi 40 %. Rendahnya hasil literasi ANBK salah satunya adalah kesadaran minat baca siswa rendah serta lemah dalam sintesis isi bacaan. Data lain berdasarkan assesment kemampuan baca, terdapat 30 orang siswa pada kelas tinggi yang kemampuan baca belum mencapai pada tingkat pemahaman atau grade B. Penulis tergerak untuk mencari solusi pemecahan masalah literasi di sekolah, merubah mindset bersama bahwa persoalan literasi harus dipecahkan secara team work, bukan lagi menjadi pekerjaan rumah yang dibebankan kepada masing-masing wali kelas. Ide awal yang penulis Kembangkan adalah berbasis masalah, yakni menjadikan problem sebagai sebuah tantangan yang harus diselesaikan. Kemudian mengkaji literatur, tahapan selanjutnya adalah merencanakan program, observasi, action dan evaluasi.  Program yang digunakan dalam menurunkan angka buta baca adalah zero illiteracy. Zero illiteracy adalah kata serapan bahasa inggris yang kemudian diartikan sebagai nol buta baca, dalam konteks bahasan studi ilmiah ini diartikan sebagai gerakan berantas buta baca. Secara spesifik asal istilah zero illiteracy ini dibuat oleh penulis sebagai sebutan nama program. Zero illiteracy diartikan sebagai tingkatan kecakapan atau kemampuan membaca yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Tahapan grading dalam program zero illiteracy ini terdapat empat tahapan atau grading yakni ; Grade  A, Grade B, Grade C dan Grade D. Program zero illiteracy ini penulis kembangan sejak pelaksanaan kick off pada bulan agustus tahun 2022, sebelum penulis diangkat sebagai kepala sekolah. Kick Off program Zero Illiteracy Bersama Kepala Dinas Pendidikan Kami mengajak kepada seluruh dewan guru, staf, kepala sekolah dan disaksikan oleh Kepala Dinas Pendidikan untuk menandatangai komitmen bersama. Kurang lebih selama dua tahun program zero illiteracy diterapkan di sekolah SDN Embacang Lama. Dampak perubahan yang dirasakan sangat masif, terutama pada psikologis siswa, dimana sebelum ada program zero illiteracy siswa yang tidak bisa membaca merasa termarginalkan karena memperoleh perlakuan lain dengan siswa yang sudah bisa membaca dengan baik. Sebagai contoh perlakukan yang membuat siswa tertekan adalah “perampasan’’ jam istirahat yang dimanfaatkan oleh guru (wali kelas) untuk membimbing siswa dalam belajar membaca. Penulis sangat tidak setuju dengan kebijakan yang menggunakan jam istirahat siswa untuk membimbing beberapa siswa yang tidak bisa membaca, karena otak memiliki batas kemampuan untuk berfikir konsentrasi dan membutuhkan jeda untuk refresh.   Beberapa kelebihan program zero illiteracy adalah modul bacaan dan buku pembaca pemula disusun oleh penulis, adanya unsur homogen dan heterogen. Homogen dalam aspek kemampuan membaca dan heterogen dalam aspek tingkatan kelas. Siswa akan dikelompokan berdasarkan kemapuan jenjang baca yang artinya siswa pada jenjang kelas tinggi akan memungkinkan bertemu dengan siswa jenjang kelas rendah (sesuai kemampuan membaca). Program zero illiteracy sangat terasa kental semangat kolaborasi dan kebersamaan karena pada pelaksanaan program ini semua guru dan staf terlibat sebagai mentor baca, menjadikan sebuah persoalan besar “buta baca” yang akan menjadi target utama untuk diselesaikan bersama oleh seluruh steakholder.   Penulis memiliki Impian program zero illiteracy ini dapat digeneralisasi di sekolah-sekolah wilayah Kabupaten Musi Rawas Utara, khususnya sekolah yang memiliki persolaan yang sama. Program zero illiteracy ini sudah melalui beberapa tahap uji coba baik di internal sekolah maupun sekolah lain yang menerapkan dan menunjukan hasil yang cukup signifikan dalam meningkatkan kesadaran literasi siswa. Penulis sudah melibatkan para pengawas sekolah untuk membantu mensosialisasikan program zero illiteracy ini kepada sekolah-sekolah binaannya. Sampai tahap saat ini sudah tiga kecamatan dan total 25 sekolah di Kabupaten Musi Rawas Utara menerima materi workshop zero illiteracy. Kedepan penulis memiliki keingingan untuk menguji program zero illiteracy kepada pakar Pendidikan meminta masukan dan menyempurkan kekurangan sehinga nantinya dapat secara serentak diterapkan di sekolah-sekolah, dengan diterbitkan surat edaran Dinas Pendidikan Muri Rawas Utara. Penulis akan menyempurnakan modul zero illiteracy, sehingga terbentuk silabus / kurikulum baku zero illiteracy, dengan demikian guru atau sekolah yang akan menerapkan zero illiteracy, akan semakin mudah memberikan treatment kepada siswa karena sudah jelas dan detail terdapat pada panduan kurikulum zero illiteracy.   Tiga sekolah di wilayah Kabupaten Musi Rawas Utara sudah menjalankan program zero illiteracy, secara hasil dalam bentuk data akan dilihat pada fase I (tiga bulan) kedepan, akan tetapi evaluasi saat wawancara dengan koordinator program dan kepala sekolah, kesan yang diberikan cukup positif, semakin mudah membuat vibe kekompakan guru dan terasa nauansa budaya literasi. Dari sisi kemampuan membaca siswa secara kasat terlihat meningkat. Tiga sekolah yang sudah aktif menerapkan zero illiteracy yakni, SDN Karang Waru Kecamatan Rupit, SDN 2 Embacang Baru Kecamatan Karang Jaya dan SDN 1 Karang jaya. Penulis akan memperdalam kerjasama dengan pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan Musi Rawas Utara untuk diterapkan ke sekolah di wilayah Kabupaten Musi Rawas Utara, dengan alasan kuat bahwa sampai saat ini belum ada strategi khusus yang digunakan Dinas Pendidikan dalam hal memeberantas buta membaca.   Program yang baik seyogyanya diimbaskan lebih luas. Pengimbasan yang berdampak luas tentu membutuhkan anggaran, penulis telah mencoba berkolaborasi kepada NGO Lembaga non-profit untuk mendukung pelaksanaan zero illiteracy khususnya di sekolah-sekolah pedalaman. Penulis, selain sebagai kepala sekolah juga aktif dalam kegiatan sosial, sejak tahun 2017 penulis juga konsen dalam membangun Pendidikan pedalaman khususnya dengan mendatangkan bantuan dari donatur, beberapa program yang sudah terealisasi adalah bantuan tujuh jembatan gantung untuk memudahkan akses ke sekolah dan perekonomian warga di musi rawas utara, perahu Pendidikan untuk anak sekolah di Kabupaten kepulauan riau, Kabupaten sintang, Kalimantan Tengah dan Musi Rawas Utara. Pengimbasan zero illiteracy yang di laksanakan di kecamatan karang jaya pada tanggal 21 oktober adalah salah satu pengimbasan yang mendapatkan hibah dana dari yayasan sahabat pedalaman. Saat ini juga penulis sedang tahapan pengajuan proposal kepada Global Partnership for Education (GPE) dengan tema program Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia (KREASI) dengan sasaran wilayah Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kayong Utara, Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Pulau Morotai, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Pesisir Barat.   Program zero illiteracy selarah dengan program nawacita yaitu membangaun dari pinggiran. Membangun bukan hanya sekedar infrastruktur, akan tetapi lebih fundamental adalam membangun SDM. Utamanya adalah daerah terpencil yang sering dijumpai siswa tidak bisa membaca, di situlah program zero illiteracy hadir untuk mendukung program pemerintah jug, yakni ANBK. Jika nilai ANBK bagus

Praktik Baik Pembelajaran

Zero Illiteracy : Gerakan Berantas Buta Baca, Wujudkan Merdeka Belajar

Zero Illiteracy : Gerakan Berantas Buta Baca, Wujudkan Merdeka Belajar Oleh: Koko Triantoro kokotriantoro@gmail.com Kabupaten Musi Rawas Utara sampai saat ini masih kategori daerah 3T, daerah yang terletak di ujung Provinsi Sumatera Selatan. Persoalan fundamental Pendidikan yang terjadi wilayah  Kabupaten Musi Rawas Utara adalah rendahnya literasi siswa. Literasi tidak dipahami hanya sebatas membaca, menulis, jauh dari itu adalah kemampuan peserta didik dalam mengolah segala informasi yang akan menjadi sebuah kecakapan yang dimilikinya. Penulis fokus pada sekolah internal, survei berdasarkan hasil nilai literasi ANBK 2022 SDN Embacang Lama masih predikat merah, yakni pada posisi 40 %. Rendahnya hasil literasi ANBK salah satunya adalah kesadaran minat baca siswa rendah serta lemah dalam sintesis isi bacaan. Data lain berdasarkan assesment kemampuan baca, terdapat 30 orang siswa pada kelas tinggi yang kemampuan baca belum mencapai pada tingkat pemahaman atau grade B. Penulis tergerak untuk mencari solusi pemecahan masalah literasi di sekolah, merubah mindset bersama bahwa persoalan literasi harus dipecahkan secara team work, bukan lagi menjadi pekerjaan rumah yang dibebankan kepada masing-masing wali kelas. Ide awal yang penulis Kembangkan adalah berbasis masalah, yakni menjadikan problem sebagai sebuah tantangan yang harus diselesaikan. Kemudian mengkaji literatur, tahapan selanjutnya adalah merencanakan program, observasi, action dan evaluasi.  Program yang digunakan dalam menurunkan angka buta baca adalah zero illiteracy. Zero illiteracy adalah kata serapan bahasa inggris yang kemudian diartikan sebagai nol buta baca, dalam konteks bahasan studi ilmiah ini diartikan sebagai gerakan berantas buta baca. Secara spesifik asal istilah zero illiteracy ini dibuat oleh penulis sebagai sebutan nama program. Zero illiteracy diartikan sebagai tingkatan kecakapan atau kemampuan membaca yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Tahapan grading dalam program zero illiteracy ini terdapat empat tahapan atau grading yakni ; Grade  A, Grade B, Grade C dan Grade D. Grading ini merujuk pada Badan Standar Kurikulum N0. 030/P/2022 Tentang Penjenjangan Buku. Hasil data menunjukan pada tahap perencanaan jumlah peserta didik yang berada pada grade A sebanyak 8 orang, dan mengalami kenaikan  2 orang. Grade B pada tahapan perencanaan sejumlah 30 orang kemudian naik menjadi 41 orang. Pada grade C yang semula 12 naik menjadi 15 orang. Sementara grade D pada tahap perencanaan awal sebanyak 35 orang turun menjadi 27 orang. Program zero illiteracy ini penulis kembangan sejak pelaksanaan kick off pada bulan agustus tahun 2022, sebelum penulis diangkat sebagai kepala sekolah. Kami mengajak kepada seluruh dewan guru, staf, kepala sekolah dan disaksikan oleh Kepala Dinas Pendidikan untuk menandatangai komitmen bersama (https://bit.ly/3YUqiaj). Kurang lebih selama dua tahun program zero illiteracy diterapkan di sekolah SDN Embacang Lama. Dampak perubahan yang dirasakan sangat masif, terutama pada psikologis siswa, dimana sebelum ada program zero illiteracy siswa yang tidak bisa membaca merasa termarginalkan karena memperoleh perlakuan lain dengan siswa yang sudah bisa membaca dengan baik. Sebagai contoh perlakukan yang membuat siswa tertekan adalah “perampasan’’ jam istirahat yang dimanfaatkan oleh guru (wali kelas) untuk membimbing siswa dalam belajar membaca. Penulis sangat tidak setuju dengan kebijakan yang menggunakan jam istirahat siswa untuk membimbing beberapa siswa yang tidak bisa membaca, karena otak memiliki batas kemampuan untuk berfikir konsentrasi dan membutuhkan jeda untuk refresh. Perubahan pasca diterapkan zero illiteracy, sangat terlihat kongkret, yakni dari semangat siswa dalam belajar membaca karena semua mendapat perlakukan sama, siswa merasa sangat terakomodir karena dikelompkan berdasarkan jenjang grade masing-masing dan dibimbing lebih dari dua orang guru. Kegiatan zero illiteracy ini dilaksanakan lima belas menit sebelum jam efektif belajar , semua elemen terlibat aktif, dan sangat terasa budaya literasi. Beberapa kelebihan program zero illiteracy adalah modul bacaan dan buku pembaca pemula disusun oleh penulis (https://bit.ly/3YSHlcZ), adanya unsur homogen dan heterogen. Homogen dalam aspek kemampuan membaca dan heterogen dalam aspek tingkatan kelas. Siswa akan dikelompokan berdasarkan kemapuan jenjang baca yang artinya siswa pada jenjang kelas tinggi akan memungkinkan bertemu dengan siswa jenjang kelas rendah (sesuai kemampuan membaca). Program zero illiteracy sangat terasa kental semangat kolaborasi dan kebersamaan karena pada pelaksanaan program ini semua guru dan staf terlibat sebagai mentor baca, menjadikan sebuah persoalan besar “buta baca” yang akan menjadi target utama untuk diselesaikan bersama oleh seluruh steakholder. Progaram ini penulis sosialisasikan kepada masyarakat utamanya wali murid, lebih dari itu penulis memiliki harapan program ini dapat diterapkan di sekolah-sekolah Kabupaten Musi Rawas Utara. Meskipun baru tiga dari tujuh kecamatan yang sudah meniru program zero illiteracy, masyarakat merespon sangat bagus, karena memiliki keunggulan, target, alat ukur, dan perlakukan dengan strategi khusus terhadap persoalan buta membaca untuk siswa. Tanggapan positif dari para praktisi pendidikan  pertama kali kami peroleh saat gelar panen karya guru penggerak Angkatan 8 Kabupaten Musi Rawas Utara saat penulis melakukan pemaparan program zero illiteracy. Program zero illiteracy yang sudah diterapkan mampu menjawab stigma masyarakat. Selama ini lulusan SDN Embacang Lama yang paling dianggap memiliki kelulusan yang kurang kompeten dalam literasi (baca, tulis). Narasi-narasi sperti ini penulis dengar secara langsung dari masyarakat atau dewan guru di SMP Karang Jaya (sekolah yang banyak diminati lulusan SDN Embacang Lama). Stigma tersebut mulai berkurang semenjak diterapkan program zero illiteracy, terlebih penulis gencar mensosialisasikan bentuk kegiatan zero illiteracy lewat media, baik pada akun pribadi atau akun resmi sekolah. Penulis juga sering di undang dalam kesempatan diseminasi program zero illiteracy baik di wilayah Kabupaten musi rawas utara maupun dari sekolah luar Kabupaten musi rawas utara. Strategi alur zero illiteracy penulis bagikan kepada guru dan kepala sekolah yang membutuhkan. . Penulis memiliki Impian program zero illiteracy ini dapat digeneralisasi di sekolah-sekolah wilayah Kabupaten Musi Rawas Utara, khususnya sekolah yang memiliki persolaan yang sama. Program zero illiteracy ini sudah melalui beberapa tahap uji coba baik di internal sekolah maupun sekolah lain yang menerapkan dan menunjukan hasil yang cukup signifikan dalam meningkatkan kesadaran literasi siswa. Penulis sudah melibatkan para pengawas sekolah untuk membantu mensosialisasikan program zero illiteracy ini kepada sekolah-sekolah binaannya. Sampai tahap saat ini sudah tiga kecamatan dan total 25 sekolah di Kabupaten Musi Rawas Utara menerima materi workshop zero illiteracy. Kedepan penulis memiliki keingingan untuk menguji program zero illiteracy kepada pakar Pendidikan meminta masukan dan menyempurkan kekurangan sehinga nantinya dapat secara serentak diterapkan di sekolah-sekolah, dengan diterbitkan surat edaran Dinas Pendidikan Muri Rawas Utara. Penulis akan menyempurnakan modul zero illiteracy, sehingga terbentuk silabus /

Scroll to Top